Memperkokoh Spiritual dan Sanad Keilmuan, Santri Pesantren Modern Hidayatullah Blitar Gelar Rihlah Ruhaniyah ke Wali Jawa Tengah

BLITAR - Guna memperkuat spiritualitas sekaligus meneladani perjuangan para kekasih Allah, Pondok Pesantren Modern Hidayatullah Kota Blitar sukses menyelenggarakan agenda tahunan Rihlah Ruhaniyah dan Ziarah Wali Jawa Tengah. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Ahad (12 s/d 14 Juni 2026) ini diikuti oleh jajaran pengasuh, asatidz, serta seluruh santri. 

Perjalanan religi ini dirancang bukan sekadar sebagai momen penyegaran (refreshing) di sela-sela padatnya aktivitas pencarian ilmu di pondok, melainkan sebagai sarana tabarrukan (mencari berkah) dan menyambung sanad spiritual kepada para ulama penyebar Islam di Nusantara.

Tabarrukan di Makam Ulama Besar Jawa Timur

Sebelum memasuki wilayah Jawa Tengah, rombongan Pesantren Modern Hidayatullah menyempatkan diri untuk singgah dan tabarrukan di dua makam ulama legendaris Jawa Timur yang memiliki pengaruh besar di dunia Islam.

Tujuan pertama adalah Makam Syaikh Ihsan bin Muhammad Dahlan di Jampes, Kediri. Beliau adalah pengarang kitab Sirajuth Thalibin, sebuah karya fenomenal yang menjadi rujukan santri di seluruh dunia hingga universitas internasional seperti Al-Azhar di Mesir. Di sini, para santri diajak untuk meneladani kegigihan Syaikh Ihsan dalam melahirkan karya-karya ilmiah yang abadi.

Setelah dari Kediri, rombongan melanjutkan perjalanan ke Jombang untuk berziarah ke makam pahlawan nasional sekaligus salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Abdul Wahab Hasbullah di Tambakberas. Di pusara Mbah Wahab, suasana haru menyelimuti rombongan saat melantunkan doa. Ziarah ini menjadi momentum penting bagi para santri untuk menyerap spirit nasionalisme, kepemimpinan, dan kegigihan berorganisasi yang melekat pada sosok Mbah Wahab semasa hidupnya.

Meneladani Perjuangan Walisongo di Jawa Tengah

Usai merampungkan agenda ziarah di Jawa Timur, perjalanan berlanjut menuju kawasan pesisir utara Jawa Tengah. Destinasi utama ziarah kali ini difokuskan pada beberapa makam waliyullah pilar dakwah Islam, di antaranya Makam Sunan Kalijaga (Kadilangu, Demak), Sunan Kudus, Sunan Muria, Raden Patah, dan Makam Aulia Gunungpring.

Di setiap lokasi makam, suasana khusyuk menyelimuti para santri. Dipimpin oleh pengasuh dan asatidz pembimbing, seluruh rombongan melantunkan dzikir, tahlil, serta doa bersama yang ditujukan untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan keberkahan Pondok Pesantren Modern Hidayatullah Kota Blitar.

"Ziarah ini bukan sekadar rutinitas mendatangi makam. Kami ingin para santri melihat langsung jejak sejarah, merasakan atmosfer perjuangan, dan meneladani bagaimana para Wali menyebarkan Islam dengan santun, damai, dan berbudaya," ujar KH. M. Abd. Rouf di sela-sela kegiatan.

Edukasi Sejarah Islam Nusantara

Selain aspek spiritual, agenda rihlah ini juga mengusung misi edukasi sejarah. Para santri diajak untuk mengamati arsitektur peninggalan Islam masa lalu, seperti Masjid Agung Demak dan Menara Kudus, yang menjadi bukti nyata akulturasi budaya yang harmonis antara Islam dan kearifan lokal.

Melalui perjalanan ini, santri diharapkan tidak hanya unggul dalam ilmu agama dan sains modern khas kepesantrenan, tetapi juga memiliki wawasan sejarah (historical awareness) yang kuat tentang bagaimana Islam tumbuh dan mengakar di Indonesia.

Perjalanan sejauh ratusan kilometer tersebut ditutup pada Ahad (14/6) pagi saat rombongan tiba kembali di Kota Blitar dengan selamat. Meski raut lelah tampak di wajah para peserta, pancaran semangat dan ketenangan batin yang baru terpancar jelas, siap untuk menyongsong agenda akademik dan kepesantrenan selanjutnya dengan energi spiritual yang telah diperbarui.