Tabarrukan di Makam Ulama Besar Jawa Timur
Sebelum memasuki wilayah Jawa Tengah, rombongan Pesantren Modern Hidayatullah menyempatkan diri untuk singgah dan tabarrukan di dua makam ulama legendaris Jawa Timur yang memiliki pengaruh besar di dunia Islam.
Tujuan pertama adalah Makam Syaikh Ihsan bin Muhammad Dahlan di Jampes, Kediri. Beliau adalah pengarang kitab Sirajuth Thalibin, sebuah karya fenomenal yang menjadi rujukan santri di seluruh dunia hingga universitas internasional seperti Al-Azhar di Mesir. Di sini, para santri diajak untuk meneladani kegigihan Syaikh Ihsan dalam melahirkan karya-karya ilmiah yang abadi.
Setelah dari Kediri, rombongan melanjutkan perjalanan ke Jombang untuk berziarah ke makam pahlawan nasional sekaligus salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Abdul Wahab Hasbullah di Tambakberas. Di pusara Mbah Wahab, suasana haru menyelimuti rombongan saat melantunkan doa. Ziarah ini menjadi momentum penting bagi para santri untuk menyerap spirit nasionalisme, kepemimpinan, dan kegigihan berorganisasi yang melekat pada sosok Mbah Wahab semasa hidupnya.
Usai merampungkan agenda ziarah di Jawa Timur, perjalanan berlanjut menuju kawasan pesisir utara Jawa Tengah. Destinasi utama ziarah kali ini difokuskan pada beberapa makam waliyullah pilar dakwah Islam, di antaranya Makam Sunan Kalijaga (Kadilangu, Demak), Sunan Kudus, Sunan Muria, Raden Patah, dan Makam Aulia Gunungpring.
Di setiap lokasi makam, suasana khusyuk menyelimuti para santri. Dipimpin oleh pengasuh dan asatidz pembimbing, seluruh rombongan melantunkan dzikir, tahlil, serta doa bersama yang ditujukan untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan keberkahan Pondok Pesantren Modern Hidayatullah Kota Blitar.
"Ziarah ini bukan sekadar rutinitas mendatangi makam. Kami ingin para santri melihat langsung jejak sejarah, merasakan atmosfer perjuangan, dan meneladani bagaimana para Wali menyebarkan Islam dengan santun, damai, dan berbudaya," ujar KH. M. Abd. Rouf di sela-sela kegiatan.
Selain aspek spiritual, agenda rihlah ini juga mengusung misi edukasi sejarah. Para santri diajak untuk mengamati arsitektur peninggalan Islam masa lalu, seperti Masjid Agung Demak dan Menara Kudus, yang menjadi bukti nyata akulturasi budaya yang harmonis antara Islam dan kearifan lokal.
Melalui perjalanan ini, santri diharapkan tidak hanya unggul dalam ilmu agama dan sains modern khas kepesantrenan, tetapi juga memiliki wawasan sejarah (historical awareness) yang kuat tentang bagaimana Islam tumbuh dan mengakar di Indonesia.